Posting: 16-February-2009 00:38
Memulai usaha dari nol, bangkrut, hingga dikejar-kejar polisi.
Pasang surut perjalanan usahanya secara otodidak membuat ia menemukan
konsep pengelolaan bisnis yang mampu menumbuhkan semangat karyawannya
untuk rela berkorban.
Berawal pada 1991, sesaat setelah Amry
Gunawan menikah, pria keturunan Aceh ini menggadaikan mas kawin
perhiasan emas milik sang istri pada mertuanya. Atas izin istrinya,
didapatlah modal sebesar 100 ribu rupiah. Kegiatan mengisi
pengajian-pengajian mahasiswa, ia selingi dengan berjualan quran kecil
impor (madinah), dan pcrnik-pernik lain yang kala itu belum banyak
digeluti. Bisa dibilang, ia termasuk pioner dengan pasar
pengajian-pengajian untuk dacrah Bandung, Sumedang, hingga Garut.
Berburu
dari Pasar Baru Jakarta, mushaf mungil yang ia beli seharga 3000 bisa
dijual 10.000 rupiah. Sciring dengan permintaan pasar dan mulai
bermunculan majalah islami, Amry mcnambah jualannya dengan majalah,
buku-buku dan Jilbab. Ia juga memasok ke bazaar-bazaar di kampus. Pria
yang saat itu masih kuliah di sastra arab Unpad ini, mengambil cara
promosi yang jarang dipakai orang pada masa itu. Rumah kontrakannya
yang terpencil di Haur Mekar, Dipati Ukur Bandung, dijadikan
`markas' usahanya memberi denah peta agar orang mudah mencarinya.
Brosur berisi promosi barang jualan dengan potongan harga tinggi ia
sebar di beberapa masjid yang scring dikunjungi orang"
"Barangnya ga ada, promosinya gedegedean... Pokoknya
saya menjamin orang pesan apa, saya usahakan barang itu ada. Saya
perantarakanlah.. Antara pembeli dengan produsennva," tutur Amry
Gunawan terscnyum simpul. Lucu juga, saat pembeli pertama datang ke
rumah kosnnya yang berukuran 3x4m, tiada barang apapun di sana. Berkat
usaha Amry meyakinkan orang tersebut, dan kegigihannya mencari
barang-barang pesanan, ia mulai menuai hasil. Mahasiswa berbagai
perguruan tinggi di Bandung, kerap mendatanginya setiap kali kampus
mereka mengadakan bazaar.
la juga mcmiliki banyak partner sehingga usahanya makin maju.
"Saat
itu, pernak pernik islami masih jarang,"kenangnya.Pada 1993, istrinya
Nia Kurnia bertanggung jawab pada bidang administrasi. la bersama-sama
rekan-rekannya menggeluti bisnis buku dan penerbitan. di bawah nama
"Pustaka Rabbani". Saat Pustaka Rabbani mulai maju, rekan-rekannya
memilih untuk mandiri. Mcreka tidak mau bcrjoin lagi dan memilih untuk
berjalan sendiri-sendiri agar bisa mcndapatkan kcuntungan lebih. Sedang
ia berpikir untuk memilih membangun komunitas bisnis agar scmakin kuat.
Dari
sana, mulailah dibangun usaha baru yang hanya dikelola oleh Amry berdua
dengan istrinya. Nia mulai menjahit dan membuat pola jilbab dan baju.
Amry membantu ke tukang rollbis dan obras di pasar Balubur, Bandung,
karcna mcreka belum memiliki mesin obras.
Berkat
ketekunannya berkeliling dari pasar ke kampus, Amry menuai hasil secara
perlahan. Pada tahun 1994, Amry mulai menjual produk buatan orang lain.
Saat itu Pula, ia berkesempatan membeli sebuah rumah di jalan Gagak,
Surapati dengan harga miring. 14 tumbak, hanya saharga 10 juta. Rumah
itu menjadi pusat produksi sekaligus markas usahanya. Usaha busana dan
jilbab menjadi tanggung jawab istrinya secara mandiri.
la
mulai merckrut orang. Popok bcrlabcl "Jundi" menjadi salah satu garapan
usahanya. Saat itu ia juga bekerjasama dengan seorang rekanan asal
Belanda, dan memasarkan produknva hingga ke luar negeri. Dari popok, ia
mulai memperluas membuka usaha bank perkreditan rakyat (BPR) dengan
konsep syariah. Nasabahnya cukup banyak. Namun, karena masalah
persaingan dalam tim bisnis tersebut, ia memilih mengalah dengan
menyerahkan pengelolaan usaha pada rekannya. Namanya masih tertera
dalam izin perusahaan tersebut.
Perjalanan usaha
Amry tak mulus begitu saja. Usaha yang sudah ia tinggalkan, yang secara
hukum memakai namanya, berhutang sekitar 2 milyar. Nasabah memburu, ia
pun harus berurusan dengan polisi. Teman-teman yang mengelola usaha
tersebut kabur, tinggal Amry sendiri menanggung belitan hutang.
"Kudeta
bisnis, ceritanya. Awalnya saya berpikir silahkan saja untuk
kepentingan umat. Namun, setelah rugi saya ditinggalkan...," seloroh
Amry.
Rumahnya scmpat didatangi 800 orang nasabah yang menuntut ganti rugi. Saat itu, Amry tidak di rumah dan istrinnya yang menemui.
"Serbu saja! Saya yakin suami saya nggak salah," tantang Nia tak gentar saat menghadapi ratusan massa yang marah.
Peristiwa
itu mengharuskan Amry keluar masuk pengadilan. Berada dalam kondisi tak
menentu dan menunggu putusan, menempa Amry untuk makin arif dalam
memaknai hikmah kehidupan. Selama 3 tahun, ia akhirnya mendapatkan
putusan bebas, namun harus membanyar semua kerugian nasabah.
Setelah
kejadian itu, Amry kembali bergabung pada bisnis yang digeluti
Istrinya. la kembali ke masa-masa lalu di mana usaha yang mereka lakoni
adalah usaha keluarga. Sepasang suami istri berputra tujuh ini, lebih
berkonsentrasi pada CV Rabbani Asyisa yang bergelut dalam bidang
konveksi busana muslim dan pernak perniknya. Jika sebagian orang bisa
mendapatkan team work yang memperkuat bisnis dari hubungan pertemanan,
tidak demikian dengan Amry. Dua kali `ditinggalkan' partner bisnis
membuat Amry lebih berhati-hati. `Soulmate' bisnisnva ternyata pada
istrinya. Rabbani mempunyai konsep unik dalam penerapan manajemen
usaha. Amry menyebutnya `manajemen jihad'. Justru, team work sejatinya
ada di sana.
Manajemen Jihad
Perjuangan
keras Amry dalam dunia bisnis membuat ia menemukan konsep pengelolaan
yang dirasa tepat untuk memajukan Rabbani. Setelah 2 tahun Amry
menyebutnya dengan `manajemen jihad'.
"Keberhasilan
kita adalah pada saat karyawan kita berhasil. Di sini kita menerapkan
UMZ, upah minimun zakat. Penghasilan karyawan disesuaikan dengan batas
minimum jumlah pembayaran zakat profesi. Agar mereka bisa menyisihkan
uangnya untuk zakat," terang ayah dari tujuh orang putera ini tentang
manajemen jihad gaya Rabbani.
Anda tentu tahu,
upah minimum regional (UMR) untuk daerah Bandung dan sekitarnya sekitar
Rp 650 ribu. Sopir, kasir, pelayan hingga penjahit di Rabbani dibayar
dengan batas terendah Rp 1,5 juta setiap bulannva.
"Itu
sudah berlaku sejak usaha kita masih berupa industri konveksi di
rumahan," sebut Amry yang hingga Rabbani sudah berubah menjadi bisnis
garmen tetap berusaha meningkatkan kesejahteraan karyawannya. Kini
Rabbani memiliki tiga cabang toko di Bandung, Depok dan Jatinangor yang
umumnya dekat dengan lingkungan kampus.
la
mengupayakan setiap karyawannya memiliki multi skill yang selalu di
up-grade setiap bulannya. Setiap paginya, Rabbani mengadakan kajian
kewirausahaan, agama, hingga
pengetahuan umum
hagi karyawannya. Setiap masuk waktu sholat fardhu, karyawan diserukan
untuk meninggalkan sejenak pekerjaannya dan menunaikan sholat berjamaah
secara bergantian.
Mencapai keberhasilan
manajemen jihad, bukan tanpa pengorbanan. Perkembangan usaha Rabbani
kian buruk pada Juli-Agustus 2004 lalu, bertepatan dengan masa-masa
kampanye presiden Indonesia. Omzet yang setiap bulannya mcncapai
ratusan juta rupiah setiap bulannya menyusut hingga 60%. Agar tetap
bertahan, ia memutuskan untuk harus melakukan perubahan radikal
terhadap usaha tersebut. Berbagai permasalahan yang dihadapi,
dirembukkan bersama seluruh karyawannya. Keputusan-keputusan yang
diambil perusahaan, tak lepas dari peranan seluruh orang yang ada dalam
perusahaan tesebut untuk bangkit memajukan usaha yang sedang terguncang.
Namun,
ia juga harus rela ditinggalkan beberapa karyawannya. Imbasnya, ada
karyawan yang merangkap menjadi sopir dan satpam dalam mengisi posisi
yang kosong, sebagian lainnya harus rela lembur hingga malam menyusun
neraca keuangan tanpa bayaran tambahan. Karyawannya sempat tidak bisa
digaji, karena dana yang perusahaan tersebut miliki habis untuk membeli
kain dan bahan baku lain. Semuanya bisa diatasi. Bahkan, sebuah bank
menawari modal tambahan ketika ia sudah menyelesaikannya. kini, Rabbani
memiliki sekira 150 orang di pabriknya, dan 20 orang di beberapa
gerainya.
"Kita sedang melihat peluang untuk
waralaba. Kita sedang minta bantuan. Mudah-mudahan bisa menyebar dengan
cepat," papar Amry mengenai rencana kemajuan usahannya.
Amry
juga mulai merambah ke bisnis properti. la mulai menggarap beberapa
rumah tinggal yang ia punyai untuk dirombak senyaman mungkin. kemudian
ia jual kembali. Semuanya, tak lepas dari manajemen jihad yang ia
lakoni. Satu muara bagi seluruh usahanya,